ArtikelPenelitianResearch Spotlight

Jangan Asal Pilih Pengharum Mobil: Bentuknya Bisa Memengaruhi Kualitas Udara Kabin

×

Jangan Asal Pilih Pengharum Mobil: Bentuknya Bisa Memengaruhi Kualitas Udara Kabin

Share this article

Pengharum mobil mungkin terlihat sebagai benda kecil yang hanya berfungsi membuat kabin terasa lebih segar. Namun, sebuah penelitian menunjukkan bahwa jenis dan bentuk pengharum yang digunakan dapat memengaruhi konsentrasi partikel udara di dalam kabin, terutama ketika mobil terparkir di bawah terik matahari.

Penelitian yang dilakukan oleh Riyados Solichin, Muji Setiyo, dan Mohamad Heerwan Bin Peeie dengan judul “Effects of Car Air Freshener Formulations on Airborne Particle Concentrations in Solar-Heated Vehicle Cabins” yang terbit di Jurnal Scientific Experiences in Mechanical Engineering menguji tiga jenis pengharum mobil (cair, gel, dan padat) dalam kondisi kabin kendaraan yang mengalami pemanasan akibat paparan sinar matahari. Hasilnya cukup menarik: pengharum cair menghasilkan konsentrasi partikel paling tinggi, sedangkan pengharum padat menghasilkan konsentrasi paling rendah.

Kabin mobil bisa menjadi sangat panas

Kita mungkin sudah terbiasa dengan kondisi mobil yang panas setelah diparkir di bawah matahari. Tetapi seberapa panas sebenarnya? Dalam eksperimen ini, sebuah Daihatsu Gran Max Pick-Up tahun 2015 digunakan sebagai kendaraan uji. Mobil diparkir di area terbuka dengan pintu dan jendela tertutup, kemudian dibiarkan menerima paparan sinar matahari langsung selama tiga jam. Temperatur kabin yang awalnya sekitar 24–28°C meningkat hingga 44–50°C. Pada saat yang sama, kelembapan relatif turun dari sekitar 44–82% menjadi 32–40%. Kondisi seperti ini menunjukkan bahwa kabin mobil yang tertutup dapat berubah menjadi lingkungan dengan temperatur yang sangat tinggi hanya dalam beberapa jam. Bagi pengharum mobil, temperatur tinggi bukan kondisi yang sepele. Semakin tinggi temperatur, semakin mudah berbagai senyawa volatil menguap. Artinya, aroma dari pengharum dapat dilepaskan lebih cepat ke udara kabin.

Tiga jenis pengharum dibandingkan

Penelitian ini membandingkan empat kondisi:

  1. Tanpa pengharum sebagai kontrol.
  2. Pengharum cair dengan aroma Pink Blossom.
  3. Pengharum gel dengan aroma Flower Nectar.
  4. Pengharum padat dengan aroma Spring Bougainvillea.

Ketiga produk ditempatkan pada posisi yang sama, yaitu di bagian tengah dashboard. Konsentrasi partikel kemudian diukur menggunakan particle counter pada ukuran 0,3; 0,5; 1,0; 2,5; 5,0; dan 10,0 µm. Pengukuran dilakukan setiap 30 menit selama tiga jam.
Selain mengukur partikel, penelitian juga menggunakan Fourier Transform Infrared Spectroscopy (FTIR) untuk melihat karakteristik kimia dari masing-masing pengharum.

Pengharum cair menghasilkan partikel paling tinggi

Hasil pengukuran menunjukkan perbedaan yang cukup jelas, khususnya pada partikel berukuran 0,3 µm.

KondisiKonsentrasi maksimum 0,3 µmPerubahan terhadap kontrol
Tanpa pengharum64.072 pcs/L
Pengharum cair100.089 pcs/L+56,2%
Pengharum gel93.614 pcs/L+46,1%
Pengharum padat31.333 pcs/L−51,1%

Dengan kata lain, dalam kondisi eksperimen tersebut, penggunaan pengharum cair menghasilkan konsentrasi partikel 0,3 µm yang 56,2% lebih tinggi dibandingkan kondisi tanpa pengharum. Pengharum gel juga menunjukkan peningkatan sebesar 46,1%. Sebaliknya, pengharum padat justru menghasilkan konsentrasi sekitar 51,1% lebih rendah dibandingkan kontrol.

Mengapa pengharum cair lebih tinggi?

Salah satu penjelasan yang diajukan penelitian adalah mekanisme pelepasan senyawa volatil. Pengharum cair memiliki hambatan perpindahan massa yang relatif kecil. Ketika temperatur kabin meningkat, komponen yang mudah menguap dapat lebih cepat berpindah dari produk ke udara. Sementara itu, pada pengharum gel, matriks gel dapat menjadi semacam penghalang difusi sehingga pelepasan senyawa berlangsung lebih lambat. Pengharum padat memiliki struktur yang lebih membatasi perpindahan komponen pewangi menuju permukaan. Akibatnya, pelepasan senyawa volatil berlangsung lebih lambat selama periode pengujian.

Menariknya, kandungan pewangi yang lebih tinggi tidak otomatis menghasilkan konsentrasi partikel yang lebih tinggi. Pengharum gel dalam penelitian ini memiliki kandungan fragrance yang lebih tinggi daripada pengharum cair, tetapi konsentrasi partikelnya tetap lebih rendah. Ini menunjukkan bahwa bukan hanya komposisi kimia yang penting. Bentuk fisik produk dan mekanisme pelepasannya juga berperan.

Ada hal menarik dari pengharum padat

Pengharum padat menghasilkan konsentrasi partikel paling rendah, bahkan lebih rendah daripada mobil tanpa pengharum. Namun, peneliti tidak langsung menyimpulkan bahwa pengharum padat pasti “membersihkan” udara. Ada dua kemungkinan yang perlu diperhatikan. Pertama, matriks padat mungkin memiliki kemampuan mengadsorpsi sebagian partikel atau uap yang dapat mengembun. Kedua, karena setiap kondisi hanya diuji satu kali pada hari yang berbeda, perbedaan kondisi lingkungan dari hari ke hari juga dapat memengaruhi hasil. Karena itu, temuan pengharum padat perlu dikonfirmasi melalui penelitian dengan replikasi yang lebih banyak sebelum dapat digunakan untuk membuat rekomendasi umum.

Apa yang terlihat dari analisis FTIR?

Untuk memahami karakteristik kimia produk, peneliti melakukan analisis FTIR. Pengharum cair menunjukkan beberapa kelompok fungsi seperti O–H, alifatik C–H, ester, amida, dan karboksilat. Pengharum gel menunjukkan antara lain kelompok alifatik, ester, dan fosfat. Sementara itu, pengharum padat menunjukkan kelompok seperti O–H, alifatik C–H, nitro, karbonat, dan senyawa berfluorin. Namun, FTIR dalam penelitian ini bersifat kualitatif. Teknik tersebut mengidentifikasi kelompok fungsi, bukan secara langsung menentukan seluruh jenis senyawa kimia individual yang ada dalam produk. Untuk mengetahui senyawa volatil secara lebih spesifik, penelitian lanjutan perlu menggunakan teknik seperti GC-MS (Gas Chromatography–Mass Spectrometry).

Jadi, apakah pengharum mobil berbahaya?

Penelitian ini tidak menyimpulkan bahwa semua pengharum mobil berbahaya. Yang ditunjukkan adalah bahwa formulasi pengharum dapat memengaruhi dinamika partikel udara di dalam kabin, khususnya ketika kendaraan mengalami pemanasan akibat paparan matahari. Penelitian juga tidak mengukur konsentrasi VOC secara langsung. Karena itu, peningkatan partikel tidak boleh langsung diterjemahkan sebagai ukuran toksisitas atau risiko kesehatan tertentu. Peneliti sendiri menyarankan pengukuran VOC secara langsung dalam penelitian berikutnya. Justru di sinilah pentingnya membaca hasil penelitian secara proporsional. Yang ditemukan adalah perubahan konsentrasi partikel, bukan bukti bahwa suatu produk pasti menyebabkan penyakit.

Kapan kualitas udara kabin perlu diperhatikan?

Ada satu temuan lain yang cukup penting. Konsentrasi partikel pada umumnya menurun seiring waktu, meskipun temperatur kabin terus meningkat. Hal ini menunjukkan bahwa konsentrasi partikel di dalam kabin merupakan hasil keseimbangan antara proses pembentukan dan proses penghilangan partikel. Partikel dapat mengalami pengendapan, deposisi pada permukaan interior, maupun koagulasi sehingga jumlah partikel yang terukur di udara berkurang. Karena itu, periode awal ketika mobil mulai panas dapat menjadi kondisi yang menarik untuk diperhatikan. Pada fase tersebut, pelepasan senyawa volatil dapat berlangsung cepat sementara konsentrasi partikel masih relatif tinggi.

Apa yang sebaiknya dilakukan pengemudi?

Penelitian ini memberikan satu pesan praktis yang sederhana: jangan langsung masuk dan berkendara setelah mobil lama terparkir di bawah matahari tanpa memberikan kesempatan bagi udara kabin untuk berganti. Membuka pintu atau jendela dan melakukan ventilasi sebelum berkendara dapat membantu mengurangi akumulasi polutan di dalam kabin. Penelitian tersebut secara khusus menekankan pentingnya strategi ventilasi dan pendinginan kabin sebelum kendaraan digunakan, terutama di lingkungan tropis dengan temperatur kabin yang dapat melebihi 45°C. Untuk pemilihan pengharum, hasil penelitian sementara menunjukkan bahwa bentuk fisik produk tampaknya sama pentingnya dengan kandungan fragrance. Dalam eksperimen ini, pengharum cair memberikan konsentrasi partikel tertinggi, diikuti gel, sedangkan pengharum padat memberikan konsentrasi terendah. Tetapi sekali lagi, hasil tersebut masih bersifat awal karena penelitian hanya menggunakan satu kendaraan dan setiap kondisi hanya diuji satu kali.

jurnal.aisindonesia.id

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *