ArtikelPenelitianResearch Spotlight

Bunyi Peringatan Sabuk Pengaman Makin Keras, Benarkah Membuat Pengemudi Lebih Patuh

×

Bunyi Peringatan Sabuk Pengaman Makin Keras, Benarkah Membuat Pengemudi Lebih Patuh

Share this article

Sabuk pengaman adalah salah satu fitur keselamatan paling sederhana sekaligus paling penting di dalam kendaraan. Namun, memiliki sabuk pengaman tidak otomatis membuat semua orang mau menggunakannya. Karena itu, produsen kendaraan melengkapi mobil modern dengan Seatbelt Reminder System (SBR) atau sistem pengingat sabuk pengaman. Ketika pengemudi atau penumpang belum mengenakan sabuk pengaman, kendaraan akan memberikan peringatan, baik melalui lampu indikator maupun suara. Pertanyaannya kemudian menjadi menarik: apakah suara peringatan yang lebih lama dan lebih agresif benar-benar membuat orang lebih patuh mengenakan sabuk pengaman?

Sebuah penelitian yang dilakukan oleh Juffrizal Karjanto dan rekan-rekannya dari Universiti Teknikal Malaysia Melaka (UTeM) bersama Malaysian Institute of Road Safety Research (MIROS) mencoba menjawab pertanyaan tersebut melalui eksperimen langsung di kendaraan. Penelitian ini diterbitkan dalam Scientific Experiences in Mechanical Engineering, Vol. 1 No. 1 (2027), dengan judul Effects of Different Seatbelt Reminders on Seatbelt Wearing Rates: Malaysian Case Study.

Tiga jenis pengingat diuji

Peneliti membandingkan tiga konfigurasi sistem pengingat sabuk pengaman yang tersedia pada tiga model kendaraan. Pertama adalah Perodua Myvi, yang menggunakan pengingat visual saja untuk pengemudi. Artinya, pengemudi mendapatkan indikator visual tanpa peringatan suara. Kedua adalah Hyundai Creta, yang menggunakan pengingat visual dan suara secara intermiten. Sistem audionya memberikan peringatan selama sekitar 90 detik dengan volume dan frekuensi yang relatif konstan. Ketiga adalah Perodua Ativa, yang menggunakan pengingat visual dan suara yang lebih persisten. Setelah sekitar 30 detik, bunyi peringatan menjadi lebih agresif ketika sabuk pengaman belum digunakan. Dengan demikian, eksperimen tersebut pada dasarnya membandingkan tiga pendekatan:

visual saja → suara intermiten → suara yang semakin agresif.

Eksperimen dilakukan langsung di jalan

Penelitian ini bukan hanya menggunakan simulator. Para peneliti melakukan eksperimen on-road dengan melibatkan 35 peserta. Sebelumnya, 237 orang mengikuti proses penyaringan untuk menemukan calon peserta yang mengaku sebagai pengguna sabuk pengaman secara tidak konsisten. Dari proses tersebut diperoleh 60 calon peserta, tetapi hanya 35 orang yang akhirnya bersedia mengikuti eksperimen.

Para peserta ditempatkan pada tiga posisi berbeda:

  • pengemudi,
  • penumpang depan,
  • penumpang belakang.

Eksperimen dilakukan dalam tiga putaran dengan total lintasan sekitar 2,20 kilometer. Putaran pertama digunakan untuk membiasakan peserta dengan lintasan. Pada putaran berikutnya, peserta diberi tugas tertentu, termasuk mengambil kotak dari bagasi dan memasukkan botol air ke dalam kabin. Yang menarik, tim peneliti tidak memberikan instruksi khusus kepada peserta untuk mengenakan sabuk pengaman selama eksperimen. Dengan demikian, perilaku peserta terhadap sistem pengingat dapat diamati secara lebih alami.

Hasilnya justru tidak seperti yang diperkirakan

Hipotesis awal penelitian cukup masuk akal: sistem dengan peringatan suara yang lebih persisten diperkirakan akan menghasilkan tingkat penggunaan sabuk pengaman yang lebih tinggi dibandingkan sistem visual saja. Namun, hasil eksperimen menunjukkan sesuatu yang lebih kompleks. Pada posisi pengemudi, tingkat penggunaan sabuk pengaman memang menunjukkan kecenderungan lebih tinggi pada sistem pengingat yang lebih agresif. Pada putaran ketiga, misalnya, penggunaan sabuk pengaman mencapai 85,7 persen pada Perodua Ativa, dibandingkan 71,4 persen pada Hyundai Creta dan 42,9 persen pada Perodua Myvi.

Tetapi secara statistik, perbedaannya tidak signifikan dengan nilai p = 0,223.

Artinya, secara sederhana, penelitian ini belum dapat menyatakan bahwa sistem pengingat yang lebih agresif secara statistik benar-benar lebih efektif.

Penumpang belakang menjadi persoalan serius

Bagian yang paling menarik justru terlihat pada penumpang belakang. Pada posisi ini, hanya 2 dari 7 peserta atau sekitar 28,57 persen yang mengenakan sabuk pengaman. Angka tersebut sama pada kedua kondisi pengingat yang diuji. Dengan kata lain, sekitar 71 persen peserta penumpang belakang tetap tidak menggunakan sabuk pengaman. Analisis McNemar juga menunjukkan tidak terdapat perbedaan signifikan antara kedua kondisi, dengan p = 1,000. Temuan ini menunjukkan bahwa persoalan sabuk pengaman tidak hanya terletak pada seberapa keras suara peringatannya. Di mana peringatan itu ditempatkan juga sangat penting.

Pada Perodua Ativa, misalnya, indikator visual untuk penumpang belakang berada di area atas dekat kaca spion. Posisi tersebut berpotensi sulit terlihat oleh penumpang belakang. Akibatnya, indikator visual dapat kehilangan efektivitasnya karena tidak berada dalam bidang pandang penumpang.

Mengapa suara yang lebih agresif belum tentu efektif?

Ada paradoks dalam desain sistem pengingat keselamatan. Peringatan yang terlalu lemah mungkin mudah diabaikan. Tetapi peringatan yang terlalu keras atau terlalu mengganggu juga dapat membuat pengguna merasa tidak nyaman dan bahkan berusaha menonaktifkan sistem tersebut. Karena itu, desain sistem pengingat harus mencari titik keseimbangan antara efektivitas dan penerimaan pengguna.

Penelitian sebelumnya yang dibahas dalam artikel menunjukkan bahwa sistem dengan peringatan suara yang lebih persisten dapat meningkatkan penggunaan sabuk pengaman. Namun, penelitian ini sendiri belum menemukan perbedaan yang signifikan secara statistik antara konfigurasi pengingat yang diuji.

Dengan demikian, kita tidak bisa begitu saja menyimpulkan:

“Semakin berisik, semakin patuh.”

Hubungannya ternyata jauh lebih kompleks.

Ada faktor lain: perilaku peserta

Peneliti juga menemukan kemungkinan bahwa karakteristik peserta memengaruhi hasil penelitian. Peserta dipilih berdasarkan jawaban mereka dalam kuesioner mengenai kebiasaan menggunakan sabuk pengaman. Namun, ketika eksperimen berlangsung, sebagian peserta ternyata tetap mengenakan sabuk pengaman secara konsisten. Dengan kata lain, perilaku yang dilaporkan dalam kuesioner tidak selalu sama dengan perilaku aktual ketika berada di dalam kendaraan.

Selain itu, mengisi kuesioner sebelum eksperimen juga berpotensi membuat peserta menjadi lebih sadar terhadap isu sabuk pengaman. Kesadaran tersebut mungkin mendorong mereka untuk mengenakan sabuk pengaman meskipun sistem pengingat yang digunakan berbeda. Peneliti menyebut kemungkinan ini sebagai priming atau demand characteristics, meskipun efek tersebut tidak diukur secara langsung dalam penelitian.

Jadi, apakah sistem pengingat sabuk pengaman efektif?

Jawabannya: berpotensi efektif, tetapi penelitian ini belum membuktikan adanya perbedaan yang signifikan secara statistik. Sistem dengan peringatan audio yang lebih persisten memang menunjukkan kecenderungan meningkatkan kepatuhan dibandingkan pengingat visual saja. Namun, ukuran sampel yang kecil dan metode pemilihan peserta menjadi keterbatasan penting.

Karena itu, hasil penelitian lebih tepat dibaca sebagai bukti awal, bukan sebagai dasar untuk menyatakan bahwa satu jenis sistem pengingat pasti lebih baik daripada yang lain.

Pelajaran penting untuk desain kendaraan

Ada beberapa pelajaran menarik dari penelitian ini.

Pertama, sistem keselamatan tidak cukup hanya tersedia; sistem tersebut harus benar-benar diperhatikan dan direspons pengguna. Kedua, suara bukan satu-satunya faktor. Durasi, pola bunyi, volume, frekuensi, dan lokasi indikator visual dapat memengaruhi efektivitas sistem. Ketiga, perhatian khusus perlu diberikan kepada penumpang belakang. Dalam penelitian ini, tingkat penggunaan sabuk pengaman pada penumpang belakang sangat rendah meskipun kendaraan telah dilengkapi sistem pengingat.Salah satu gagasan yang disampaikan peneliti adalah penggunaan sensor berat pada kursi untuk mendeteksi keberadaan penumpang. Sistem kemudian dapat memberikan peringatan kepada penumpang maupun pengemudi ketika kursi ditempati tetapi sabuk pengaman belum digunakan.

Keselamatan kendaraan bukan sekadar persoalan teknologi

Penelitian ini memberikan pesan yang cukup penting. Teknologi keselamatan kendaraan tidak berhenti pada pertanyaan “apakah sistem tersebut bekerja?”

Pertanyaan yang lebih penting adalah: “Apakah manusia benar-benar merespons sistem tersebut?”

Sebuah sistem pengingat dapat dibuat semakin keras, semakin lama, dan semakin agresif. Tetapi jika pengguna menganggapnya mengganggu, tidak melihat indikatornya, atau sudah terbiasa mengabaikannya, efektivitas sistem tersebut tetap terbatas.

Karena itu, masa depan teknologi keselamatan kendaraan tidak hanya membutuhkan sensor dan algoritma yang lebih canggih. Kita juga membutuhkan pemahaman yang lebih baik tentang perilaku manusia.

Penelitian Karjanto dan kolega menunjukkan bahwa bahkan sistem pengingat sabuk pengaman yang berbeda secara teknis belum tentu menghasilkan perbedaan perilaku yang mudah dibuktikan secara statistik.

Dan mungkin di situlah tantangan sebenarnya: Bukan bagaimana membuat mobil lebih keras mengingatkan manusia, tetapi bagaimana membuat manusia lebih bersedia mendengarkan peringatan keselamatan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *