Seperti halnya Variable Reluctance Sensors, Hall Effect Sensor digunakan terutama untuk mengukur rpm dan menentukan posisi poros engkol atau camshaft pada Engine Management System, serta mengukur kecepatan (rpm) roda pada sistem ABS, sistem ESP, dan lainnya.

Tidak seperti sensor induktif (VR sensor), sinyal output dari sensor Hall effect tidak dipengaruhi oleh laju perubahan medan magnet. Tegangan output yang dihasilkan biasanya berada dalam kisaran mili volt (mV) dan diperkuat tambahan oleh peralatan Integrated Circuit (IC), yang dipasang di dalam sensor itu sendiri.

Gambar dibawah menunjukkan ciri khas dari sensor Hall Effect. Sinyal tegangan keluaran biasanya ada dalam pulsa bentuk gelombang digital (bentuk persegi). Sinyal output dari sensor dapat berupa positif atau negatif dengan tegangan puncak biasanya sampai 5 V atau 12 V, tergantung pada jenis elektronik dan persyaratan terpadu dari sistem yang digunakan. Amplitudo sinyal output tetap konstan, hanya frekuensi yang meningkat secara proporsional dengan rpm. Tidak seperti sensor induktif yang menghasilkan sinyal voltase dengan sendirinya, sensor Hall effect harus disuplai tambahan oleh voltase eksternal yang dibutuhkan untuk IC. Tegangan penyuplai biasa (+ Vcc) 5 V, namun dalam beberapa kasus dapat 12 V.

Prinsip kerja Hall Effect (1. Sensor housing, 2. Output signal wires, 3. Coaxial coated protection, 4. Permanent magnet, 5. Inductive coil, 6. Pole pin, 7. Trigger wheel, G. Air Gap)

Baca Juga:

Referensi:
Setiyo, M. (2017) Listrik & Elektronika Dasar Otomotif (Basic Automotive Electricity and Electronics). Edited by A. Burhanudin. Magelang: UNIMMA Press.

3 thoughts on “Hall Effect Sensor”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *